KPM BPNT di Kecamatan Proppo Terima Sembako Kurang dari Rp 200 Ribu

  • Whatsapp

PAMEKASAN – Pergerakan Mahasiswa Madura (Prahara) terus menelusuri kepastian kasus Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Kecamatan Proppo, Kamis (14/10/2021).

Alhasil, temuan di lapangan, Keluarga Penerima Manfaat (KPM) se-Kecamatan Proppo ditengarai menerima komoditi atau sembako kurang dari harga yang peruntukkan, yakni Rp 200 ribu.

Bacaan Lainnya

Ketua Prahara Haidar Anshori mengatakan, sesuai ketentuan dalam pedoman umum (pedum), KPM BPNT menerima 15 kg beras dengan ketentuan 10 kg dan 5 kg, tidak boleh langsung 15 kg.

“Sementara di Proppo KPM hanya menerima 10 kg beras, dan 1 kg telur, biasanya 1 kg telur isi sekitar 15 sampai 17 butir. Nyatanya, KPM hanya menerima 12 butir dari Agen e-Warung,” katanya.

Selain itu, kata Haidar, sembako yang diterima penerima manfaat kacang tanah sebanyak 1/2 kg. Seharusnya, kata dia, menerima 1 kg.

“Komoditi segitu tidak mungkin menghabiskan uang Rp 200 ribu. Jika begitu berarti telur 12 butir dihargai Rp 30 ribu, inikan tidak masuk akal,” ujarnya.

Haidar menerangkan, hal ini terjadi dikarenakan Agen e-Warung di Kecamatan Proppo menggunakan sistem paket. Artinya, ketika KPM hendak mengambil sembako sudah disediakan.

“Harusnya KPM berhak memilih sembako atau komoditi sesuai keinginan KPM. Kalo di Kecamatan Proppo beda, KPM harus nurut dan tunduk sama Agen e-Warung,” terangnya.

Ia menduga sistem paket yang digunakan Agen e-Warung ada yang mengkordinir. Sebab hampir merata se-Kecamatan Proppo menggunakan sistem paket.

“Selain itu, sembako yang diterima KPM hampir sama se-Kecamatan Proppo. Itupun ketika dikalkulasi kurang dari Rp 200 ribu. Padahal dari pusat diperuntukkan Rp 200 ribu per KPM,” tegasnya.

Haidar meminta dinas terkait dan anggota legislatif buka mata perihal kasus yang merugikan masyarakat kecil.

“Dinas Sosial dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah harus bertindak atas kasus ini. Bukan hanya diam. Ini bersentuhan langsung dengan rakyat kecil,” tukasnya.

Pos terkait