Selain Sistem Paket, Penerima BPNT Menduga Sembako yang Diterima Kurang dari Rp 200 Ribu

  • Whatsapp

PAMEKASAN – Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, menggunakan sistem pemaketan dalam penyaluran sembako kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM), Kamis (7/10/2021).

Hal itu disampaikan Ketua Pergerakan Mahasiswa Madura (Prahara) Haidar Anshori. Ia mengaku menerima laporan dari KPM BPNT di Desa Pengorayan. Setelah ditelusuri, ternyata hampir se-Kecamatan Proppo agen e-Warung memakai sistem pemaketan sembako.

Bacaan Lainnya

“Berdasarkan data yang kami kantongi, di lapangan, keluarga penerima manfaat tinggal mengambil komoditi yang sudah dipaketkan oleh agen e-Warung,” kata Ketua Prahara Haidar Anshori kepada suarapraksi.com.

Menurutnya, perbuatan yang dilakukan agen e-Warung kepada penerima manfaat melabrak aturan yang ditentukan dalam Pedoman Umum (Pedum) penyaluran BPNT.

Selain itu, paket sembako yang diberikan kepada masyarakat yang berhak menerima BPNT diduga nilainya kurang dari Rp 200 ribu. “Itu jelas menyalahi aturan dan tidak diperbolehkan dalam pedoman umum,” ujarnya.

Dikatakan Haidar, harusnya KPM diberikan kebebasan untuk memilih komoditi (sembako) sesuai kebutuhan dan nominal yang ada. Bukan malah ditentukan oleh agen e-Warung.

“Semisal saldo atau nominal bantuannya itu 200 ribu, maka KPM bebas memilih kebutuhan apa saja sesuai dengan nominal itu. Bukan malah ditentukan oleh agen, iya kalau komoditinya itu sesuai dengan nominal bantuannya, kalau kurang, kan KPM yang dirugikan,” terangnya.

Ia menduga ada yang memobilisasi agen e-Warung untuk memaketkan sembako yang diserahkan kepada masyarakat penerima manfaat BPNT.

“Saya malah curiga, ini ada unsur kesengajaan atau pembiaran dari oknum-oknum tertentu untuk mengambil keuntungan dari bantuan yang diperuntukan untuk masyarakat miskin ini,” tukasnya.

Pos terkait